Thursday, April 24, 2014

Harga bawal putih menjelang imlek meroket

CILACAP, (PRLM).- Ekspor "ikan dewa" (bawal putih) dan lobster menjelang tahun baru Cina Imlek meroket mencapai 100 persen. Harga di tingkat nelayan mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per kilogram.
Permintaan bawal putih atau ikan dewa dari Jakarta untuk tujuan ekspor ke Cina dan Hongkong meningkat berlipat-lipat. Cuaca ekstrim di perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dituding menjadi penyebab harga dua jenis ikan sulit dicari itu jadi naik.
Lobster dan bawal putih merupakan menu wajib untuk ritual tradisi warga Cina sekarang harganya melangit. "Stok yang ada diborong semua dengan harga cukup lumayan," kata Sumani pengepul lobster asal Cilacap.
Harga lobster mutiara mencapai Rp 1 juta per kg. Pada saat kondisi normal hanya Rp 500 ribu per kg. "Itu losbter jenis super, bobot mencapai 5 ons atau 2 ekor bobot per kg. Sekarang harganya naik sekali karena untuk kebutuhan imlek hanya saja sekarang sedang badai jadi sulit dicari," jelasnya.
Dari 60 nelayan biasa menjual hasil tangkapan yang masih aktif hanya beberapa orang saja. Pihaknya sampai kewalahan meladeni permintaan para ekportir mengingat saat ini hasil tangkapan nelayan merosot akibat cuaca buruk.
Menurut Sumani, cuaca buruk dan angin kencang membuat hasil tangkapan minim, nelayan hanya mampu menjangkau wilayah pinggiran pantai. Akibatnya harganya melonjak 100 persen, khususnya ikan laut untuk sesembahan para dewa.
Supono nelayan di Teluk Penyu Cilacap mengaku, bawal putih saat ini merupakan ikan yang paling dicari nelayan sebab harganya sangat tinggi mencapai Rp 500 ribu per kg. Meski sedang terjadi badai, dia tetap mengerahkan 5 perahunya untuk melaut, dengan cara mensiasati angin kencang.
"Kita hanya melaut empat jam per hari, nelayan berangkat jam 4.00 pagi sampai di tengah langsung menebar jaring. Jam 6.00 jaring ditarik, pukul 9.00 harus selesai dan sampai di darat. Sebab angin kencang dan gelombang tinggi datang sekitar pukul 10.00 hingga pagi hari lagi," ungkapnya.
Dengan harga mencapai Rp 500 per kg, mendapat dua ekor ikan saja cukup untuk menutup biaya operasional. Dalam sehari dia mendapat 3-5 kg setiap perahu. Padahal imlek tahun lalu pendapatannya mencapai Rp 16 juta per hari.
Ketua HNSI Kebumen Saman mengaku, saat ini nelayan sedang panen rupiah, keuntungan tinggi dari hasil tangkapan lobster dan bawal putih. Namun eksportir tetap menampung peserta lelang sebagian besar adalah agen-agen eksportir dari Jakarta, permintaan luar negeri sangat tinggi, khususnya China, Jepang dan Hongkong sehingga mererka mengutus orang-orangnya untuk ikut lelang di TPI.
"Kenapa ekspor, karena harganya sudah melangit, untuk konsumsi pasar lokal dengan harga ikan mencapai ratusan ribu rupiah, jelas tidak mampu," ujarnya.
Menurut dia, hasil tangkapan lobster nelayan di TPI Karangduwur lumayan 2-3 kuintal perhari. Nelayan saat ini sedang panen rupiah, keuntungan yang didapat setiap nelayan mencapai jutaan rupiah dalam sekali melaut. (A-99/A-147)***

No comments:

Post a Comment